Baca artikel selengkapnya di bawah formulir Coba Gratis
Halo Farmapreneur,
Terima kasih atas ketertarikan kamu pada Farmacare! Permintaan kamu sudah diterima dan kamu akan dihubungi tim kami dalam 1x24 jam di hari kerja.
Tahap selanjutnya, kamu akan kami tawarkan untuk menjadwalkan sesi demo aplikasi (gratis). Pada sesi ini, kamu akan dijelaskan secara detail mengenai:
Setelah sesi demo selesai, kamu akan dibuatkan akun trial selama 7 hari.
Jika kamu mempunyai pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi sales kami pada nomor 0812 8833 2296 (WA & Telp.)
Sampai berjumpa di sesi demo!
Salam,
Tim Farmacare
Ups, ada masalah dalam mengirimkan pesanmu. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Harga jual obat di masing-masing apotek berbeda. Setiap apotek punya kebijakan masing-masing dalam menentukan harga jual obat di apoteknya. Namun, disyaratkan harga jual obat tidak boleh melebihi HET (Harga Eceran Tertinggi) sesuai Permenkes No 98 Tahun 2015.
HET biasanya dicantumkan oleh industri farmasi di label obat pada satuan kemasan terkecil. Informasi HET wajib ada pada obat, baik obat bebas, bebas terbatas, dan obat keras.
Apotek bisa menjual harga lebih tinggi, jika HET pada label sudah tidak sesuai dengan ketentuan berlaku. Apotek pun harus bisa memberikan penjelasan kepada pelanggan.
Untuk menghitung harga jual yang proporsional, ada rumus yang bisa digunakan. Namun tak hanya itu, ada beberapa unsur yang juga jadi pertimbangan apotek saat menentukan harga jual obat. Apa saja unsur tersebut? Dan bagaimana cara menghitung harga jual obat agar kompetitif? Yuk, simak ulasannya berikut!
Harga jual obat menjadi faktor penting dalam menentukan kesuksesan sebuah apotek. Kenapa? Ya, harga jual yang tidak kompetitif, berisiko menurunkan loyalitas pelanggan di apotek. Nah, berikut lima unsur yang jadi pertimbangan dalam menentukan harga jual obat di apotek!
Apotek harus membeli obat di distributor resmi atau biasa disebut dengan Pedagang Besar Farmasi (PBF). Biasanya sales distributor obat akan mendatangi apotek, sekaligus memberi informasi seputar produk obat yang ditawarkannya.
Pihak
sales
akan menginformasikan produk obat apa saja yang dijualnya, beserta harga obat yang akan dibeli apotek. Pemesanan bisa dilakukan langsung melalui
sales
distributor.
Baca juga:
Plus - Minus Pengadaan Obat di Apotek via Kunjungan Sales vs Online Platform
Masing-masing distributor menawarkan harga pokok obat yang berbeda. Apabila apotek bisa memperoleh distributor yang punya harga pokok lebih murah, tentu akan mempengaruhi harga jual obat jadi lebih bersaing.
Saat ini apotek sudah tak perlu lagi menunggu kunjungan
sales
distributor bila ingin memesan barang. Kenapa? Ya, kamu bisa memanfaatkan
Farmacare Order untuk
pengadaan obat di apotek secara
online. Jadi, kamu bisa memesan barang kapan saja dan dari mana saja.
Kamu tahu nggak? Di Farmacare Order terdapat banyak pilihan distributor (PBF) yang bisa kamu pilih sesuai kebutuhan. Kamu bisa pilih yang punya harga paling kompetitif, stoknya memadai, atau yang paling dekat dengan apotek agar barang pesanan cepat sampai. Penasaran ingin mencoba Farmacare Order? Yuk, daftar sekarang!
Setiap distributor (PBF) punya program diskon sesuai kebijakan masing-masing. Berbeda produknya, terkadang berbeda pula kebijakan diskonnya. Diskon produk juga dipengaruhi oleh berapa banyak (kuantitas) barang yang apotek beli. Semakin banyak barang yang dibeli, semakin besar diskon yang bisa diberikan.
Diskon diberikan ke apotek karena mungkin saja pabrik obat atau distributor tersebut sedang dikejar target penjualan yang harus mereka penuhi. Sehingga untuk meningkatkan penjualan, distributor memberi diskon khusus kepada setiap pembelian apotek.
Umumnya, distributor memberi diskon 2% - 5% kepada apotek per satuan barang. Ada juga yang memberi berupa bonus. Contoh pembelian 10 box gratis 1 box. Misal harga 1 box adalah Rp75.000, berarti nilai tersebut adalah diskon yang diberikan pihak distributor.
Baca juga:
5 Kriteria dalam Memilih Distributor Obat Farmasi (PBF)
Jika apotek sudah menjadi pelanggan tetap suatu distributor (PBF), biasanya mereka tidak akan ragu memberimu banyak diskon. Diskon yang semakin besar akan menekan biaya pokok obat, yang nantinya akan berpengaruh pada penentuan harga jual obat di apotek.
Besar biaya jasa misal untuk peracikan atau uang resep, ditentukan oleh masing-masing apotek. Biaya jasa atau uang resep ini akan menjadi hak apoteker yang telah meracik atau mempersiapkan obat milik pasien. Apoteker juga bertanggung jawab memberi edukasi kepada pasien, sehingga biaya jasa ini menjadi hal yang lumrah.
Baca juga:
Apa Tanggung Jawab Profesi Apoteker di Apotek? Cari Tahu, yuk!
Besar biaya jasa atau uang resep ini misal sebagai berikut:
Semakin tinggi biaya jasa yang ditetapkan suatu apotek, tentu akan mempengaruhi harga jual obat menjadi lebih mahal.
Agar apotek selalu ramai pengunjung, harga jual produknya harus bisa bersaing. Jangan sampai apotekmu mendapat claim “apotek mahal”. Terlebih untuk jenis obat bebas dan bebas terbatas top brand yang akrab di telinga konsumen. Mereka akan lebih mudah melakukan perbandingan harga.
Sehingga harga jual kompetitor menjadi unsur keempat yang punya pengaruh terhadap penentuan harga jual obat di apotekmu. Setelah dilakukan survei dan ternyata harga jual obat di apotekmu lebih mahal, sebaiknya kamu pertimbangkan lagi untuk menyesuaikannya. Agar penjualan/omzet apotek tidak mengalami penurunan.
Margin apotek juga menjadi unsur yang mempengaruhi harga jual obat di apotek. Ketika kamu menetapkan margin yang terlalu tinggi, harga obat menjadi mahal. Karena itu, disarankan margin per produk obat adalah sebesar 15% - 25%.
Tetapkan margin lebih tinggi untuk produk obat paten dan resep. Sedangkan, untuk jenis obat bebas dan generik (fast moving), kamu bisa memberlakukan margin lebih rendah. Sehingga harga jual obat yang diberlakukan apotek lebih bersaing. Apotek akan selalu dipilih pelanggan dan bisnis apotek menjadi sehat.
Baca juga:
5 Cara Deteksi Kesehatan Bisnis Apotek, Penting Banget!
Ada beberapa tahapan perhitungan sebelum akhirnya kamu mendapatkan hasil akhir berupa harga jual obat (HJA). Ini dia cara-caranya. Simak, yuk!
Untuk bisa menghitung harga jual masing-masing produk, kamu harus tahu berapa nilai HNA (Harga Nett Apotek) setiap produk. HNA adalah harga modal atau harga beli obat dari PBF. Kamu bisa melihatnya pada faktur pembelian.
Faktur pembelian adalah bukti transaksi antara apotek dengan distributor (PBF). Di dalam faktur terdapat daftar barang pesanan, jumlah (kuantitas) barang, nomor
batch
dan tanggal
kedaluwarsa obat (ED), beserta harga beli obat dari distributor (PBF).
Rumus HNA:
Harga Beli Obat : Kuantitas Obat per Kemasan
Contoh:
Apotek A membeli obat Tremenza Tablet dari distributor dengan harga Rp80.000 per boks (@100 tablet). Berapa harga netto apotek secara satuan?
HNA = Harga Beli Obat : Kuantitas Obat per Kemasan
= Rp80.000 : 100
= Rp800 (per tablet)
Jika apotek mendapat diskon dari PBF sebesar 4% per boks, harga netto satuan obat menjadi Rp768 per tablet.
Setelah kamu mendapatkan nilai HNA, kamu tinggal menghitung harga jual obat di apotek menggunakan rumus:
Rumus HJA:
[(HNA + PPN) + Margin] + Uang Resep/Servis
Contoh:
Apotek A ingin menjual obat Tremenza Tablet. Bila HNA obat tersebut adalah Rp800 per tablet dengan margin sebesar 20% dan biaya jasa apoteker sebesar Rp500, berapa harga jual obat (HJA) tersebut?
HJA = [(HNA + PPN) + Margin] + Uang Resep/Servis
= [(Rp800 + 11%) + 20%] + Rp500
= Rp1.566 per tablet
Itu tadi ulasan seputar harga jual obat di apotek beserta cara menghitungnya. Semoga dapat bermanfaat untuk kalian. Tetap semangat melayani masyarakat Indonesia, ya!
Referensi:
Apoteker Zaini. 15 April 2020. Cara Menghitung Harga Obat di Apotek. Youtube.com: https://www.youtube.com/watch?v=xtHkRDRZS9Q
All Rights Reserved | PT Jendela Akses Sehat