Baca artikel selengkapnya di bawah formulir Coba Gratis
Halo Farmapreneur,
Terima kasih atas ketertarikan kamu pada Farmacare! Permintaan kamu sudah diterima dan kamu akan dihubungi tim kami dalam 1x24 jam di hari kerja.
Tahap selanjutnya, kamu akan kami tawarkan untuk menjadwalkan sesi demo aplikasi (gratis). Pada sesi ini, kamu akan dijelaskan secara detail mengenai:
Setelah sesi demo selesai, kamu akan dibuatkan akun trial selama 7 hari.
Jika kamu mempunyai pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi sales kami pada nomor 0812 8833 2296 (WA & Telp.)
Sampai berjumpa di sesi demo!
Salam,
Tim Farmacare
Ups, ada masalah dalam mengirimkan pesanmu. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Pengadaan obat yang efektif dilakukan dengan adanya perencanaan. Dikatakan efektif apabila pembelian dilakukan benar-benar sesuai kebutuhan, yang mengacu pada data stok, laju penjualan, dan ketentuan stok minimum. Sehingga meminimalisir potensi terjadinya stok kosong, atau bahkan over stock. Dengan adanya perencanaan pengadaan, barang yang dipesan diharapkan tepat jenis, jumlah, dan waktu; serta mutu yang terjamin. Sehingga penggunaan anggaran untuk pengadaan stok, lebih sesuai. Terdapat tiga metode perencanaan pengadaan sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 34 Tahun 2021. Apa saja? Yuk, simak di bawah ini!
Metode konsumsi didasarkan pada data konsumsi (pola penjualan) stok obat. Metode ini sering dijadikan perkiraan yang paling tepat dalam perencanaan pengadaan. Metode konsumsi menggunakan data dari konsumsi periode sebelumnya dengan penyesuaian yang dibutuhkan. Sehingga, metode ini lebih relevan digunakan pada apotek yang sudah lama buka (semakin lama, akan semakin relevan). Untuk apotek baru yang belum memiliki data konsumsi, tidak bisa menggunakan metode ini.
Perhitungan menggunakan metode konsumsi didasarkan pada analisa data penjualan periode sebelumnya, ditambah stok minimal (buffer stock), stok waktu tunggu (lead time), dan memperhatikan sisa stok. Dalam menentukan
buffer stock,
Anda juga dapat mempertimbangkan kemungkinan perubahan pola penyakit dan kenaikan jumlah kunjungan (misal: adanya kejadian luar biasa). Jumlah
buffer stock bervariasi antara 10% - 20% dari kebutuhan, atau tergantung kebijakan apotek. Sedangkan
lead time stock adalah stok obat yang dibutuhkan selama waktu tunggu, sejak obat dipesan sampai obat diterima. Semakin lama waktu pengiriman, semakin banyak
lead time stock
yang dibutuhkan – apalagi untuk barang yang sedang
high demand.
Data apa saja yang diperlukan dalam perhitungan metode konsumsi? Yaitu, daftar nama obat, stok awal, penerimaan/pembelian, pengeluaran/penjualan, sisa stok, daftar stok obat yang hilang, rusak, dan kadaluarsa, stok kosong, penjualan rata-rata per tahun, waktu tunggu (lead time), stok minimal (buffer stock), serta pola kunjungan.
Rumus:
A = Rencana pengadaan
B = Penjualan rata-rata per bulan
C = Buffer stock (tergantung kelompok pareto)
D = Lead time stock
E = Sisa stok
Contoh perhitungan dengan metode konsumsi
Selama tahun 2019 (Januari – Desember), penjualan rata-rata Paracetamol tablet di Apotek Medika sebanyak 300.000 tablet. Sisa stok per 31 Desember 2019 adalah 10.000 tablet.
Metode ini merupakan perhitungan kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit. Metode morbiditas memperkirakan keperluan obat-obat tertentu berdasarkan jumlah, fenomena penyakit, pola standar pengobatan untuk penyakit tertentu, dan lead time. Dikarenakan terbatasnya data terkait pola penyakit, perencanaan dengan metode ini jarang digunakan.
Langkah-langkah dalam metode morbiditas:
Contoh perhitungan dengan metode morbiditas
Perhitungan berdasarkan penggunaan oralit pada penyakit diare akut:
Metode proxy consumption cocok digunakan untuk perencanaan pengadaan apotek baru, yang belum punya data penjualan di tahun sebelumnya. Selain itu, metode ini juga dapat digunakan oleh apotek yang sudah berdiri lama – apabila data metode konsumsi dan/atau metode morbiditas tidak dapat dipercaya. Sebagai contoh terdapat ketidaklengkapan data penjualan antara bulan Januari hingga Desember.
Metode
proxy consumption
adalah metode perhitungan kebutuhan obat menggunakan data kejadian penyakit, penjualan obat/permintaan, dan/atau pengeluaran obat dari apotek yang sudah memiliki sistem pengelolaan obat, dan mengeksplorasikan konsumsi atau tingkat kebutuhan berdasarkan cakupan populasi atau tingkat layanan yang diberikan.
Metode ini dapat digunakan untuk menghasilkan gambaran ketika digunakan pada fasilitas apotek tertentu dengan fasilitas lain, yang memiliki kemiripan profil masyarakat dan jenis pelayanan. Metode ini juga berguna ketika ingin melakukan pengecekan silang dengan metode lainnya.
Defekta digunakan sebagai catatan obat apa saja yang harus dipesan untuk memenuhi kebutuhan stok. Fitur defekta pada software apotek seperti Farmacare, membantu Anda dalam perencanaan pengadaan obat yang lebih tepat guna. Kenapa? Ya, karena pencatatan defekta berjalan secara otomatis sesuai histori pola penjualan di apotek. Bahkan di dalamnya dapat menunjukkan data pareto, yang berfungsi untuk mengetahui produk obat mana saja yang wajib Anda prioritaskan lebih dulu dalam pengadaan karena berkontribusi paling besar terhadap omzet apotek.
Fitur Defekta di Aplikasi Apotek Farmacare
Tak hanya itu, defekta di software apotek Farmacare juga sudah ada perhitungan otomatis untuk stok minimum sebagai landasan untuk reorder point – yang didapat dari perhitungan rata-rata penjualan dan jumlah maksimal barang terjual dalam 1 hari; serta data sisa stok. Pencatatan di defekta bisa menjadi acuan perencanaan yang lebih akurat untuk pengadaan stok. Sehingga operasional dan perputaran kas apotek jadi lebih efektif dan efisien.
Tertarik ingin mencobanya? Yuk, manfaatkan
Uji Coba Gratis dengan
daftar Free Trial sekarang!
Referensi:
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2021 TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI KLINIK. Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan: https://bit.ly/3swMS9p
All Rights Reserved | PT Jendela Akses Sehat