Baca artikel selengkapnya di bawah formulir Coba Gratis
Halo Farmapreneur,
Terima kasih atas ketertarikan kamu pada Farmacare! Permintaan kamu sudah diterima dan kamu akan dihubungi tim kami dalam 1x24 jam di hari kerja.
Tahap selanjutnya, kamu akan kami tawarkan untuk menjadwalkan sesi demo aplikasi (gratis). Pada sesi ini, kamu akan dijelaskan secara detail mengenai:
Setelah sesi demo selesai, kamu akan dibuatkan akun trial selama 7 hari.
Jika kamu mempunyai pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi sales kami pada nomor 0812 8833 2296 (WA & Telp.)
Sampai berjumpa di sesi demo!
Salam,
Tim Farmacare
Ups, ada masalah dalam mengirimkan pesanmu. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Memasuki era digital, pemanfaatan internet oleh masyarakat semakin masif. Menurut laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penetrasi internet di Indonesia sudah mencapai 77,02% pada periode 2021 - 2022. Termasuk pengguna media sosial di Indonesia, dilansir dari wearesocial.com sudah mencapai 4,6 juta orang pada Januari 2022. Media sosial yang paling banyak diakses oleh orang Indonesia adalah Whatsapp, lalu Instagram, Facebook, dan Tiktok.
Tak heran bila saat ini penjualan produk obat termasuk obat herbal banyak dilakukan secara
online. Tapi sebenarnya bagaimana,
sih, tren penjualan
online
dari obat herbal? Apa iya,
omzet penjualan bisa cuan? Berikut Farmacare punya penjabaran di bawah dan webinar yang bisa Anda akses
di sini. Simak, yuk!
Penggunaan media sosial untuk memasarkan obat herbal masih dinilai efektif karena angka penggunanya yang terbilang tinggi. Seperti Instagram, demografi penggunanya adalah mereka yang berusia 25 - 34 tahun. Sangat cocok untuk membangun brand awareness dengan cara yang kreatif. Selain itu, Anda bisa membangun engagement di Instagram, misal dengan memanfaatkan ads location targeting, yang mana Anda bisa memilih target audiens dari lokasi yang spesifik (contoh: berjarak 2 - 5 meter dari apotek).
Selain Instagram, Anda juga bisa menggunakan TikTok untuk membuat
viral digital campaigns sebagai cara memasarkan produk obat herbal di media sosial dengan lebih cepat. TikTok juga cocok untuk menjangkau audiens muda yang
range usianya 16 - 24 tahun. Anda juga bisa bekerja sama dengan
micro influencer (yang punya pengikut/followers antara 1.000 - 100.000) di TikTok untuk me-review produk obat herbal yang dijual apotek Anda. Sesuaikan persona target audiens produk herbal, dengan
micro influencer yang ingin diajak kerja sama. Juga perhatikan
engagement rate yang dimiliki masing-masing
micro influencer, beserta lokasinya (sesuaikan dengan lokasi target audiens Anda).
Selain micro influencer, Anda juga bisa bekerja sama dengan influencer/public figure (punya pengikut di atas 100.000) – yang punya power untuk mempengaruhi target audiens Anda. Dengan strategi influencer marketing, setidaknya Anda bisa mendapat engagement audiens minimal 1% - 2% dari jumlah followers yang dimiliki influencer tersebut. Pastikan target audiens dari obat herbal yang dipromosikan, related dengan influencer yang digunakan.
Setiap
influencer biasanya membangun reputasi/image sesuai personalitinya, sehingga punya
expertise masing-masing. Misal, Nagita Slavina yang
concern pada konten keluarga, cocok untuk meng-endorse produk obat herbal anak-anak/keluarga. Contoh lain adalah Dr. Reisa, yang
concern membagi konten-konten kesehatan sehingga cocok untuk
endorsement produk obat herbal jenis multivitamin atau obat untuk penyakit yang lebih spesifik.
Kenapa strategi
influencer marketing efektif? Ya, karena 33% audiens yang rata-rata adalah generasi Y dan Z lebih percaya pada ulasan, yang membantu mereka memutuskan pembelian. Serta, ada 40% pengguna
marketplace
– selalu mencari ulasan produk dari
influencer di sosial media lebih dulu, sebelum membeli. Sebanyak 71%
influencers juga percaya bahwa ulasan yang jujur dan otentik, akan bantu meningkatkan
engagement dan interaksi konsumen.
Pemasaran melalui media sosial juga bisa diukur efektivitasnya. Misal dengan melihat
insight Instagram, yang di dalamnya terdapat informasi
engagement rate – melihat interaksi audiens dari aktivitas
like,
comment,
share; serta berapa kali profil Anda dikunjungi dan tautan situs web di deskripsi akun diklik. Selain itu, Anda juga bisa melihat tingkat
followers growth – apakah ada kenaikan atau tidak, mendapat informasi tentang demografi pengikut Anda, serta konten yang paling mereka minati.
Saat ini di marketplace, juga sudah banyak kita temukan produk obat herbal. Alasan konsumen memilih membeli obat herbal secara online (di marketplace), yaitu:
Pandemi di tahun 2020, membuat masyarakat seakan diminta untuk beradaptasi dengan digital (belanja
online). Mereka meminimalisir aktivitas keluar rumah, dan membeli beragam kebutuhan secara
online, termasuk obat-obatan. Fenomena inilah yang membuat permintaan obat (healthcare) di
marketplace menjadi tinggi, tak ketinggalan obat herbal. Tahun 2022, permintaan obat herbal di pasar global naik 6,01% dan pasar Asia berkontribusi sebanyak 42%.
Menurut Agusta, Brand Manager Promag, proyeksi nilai pasar digital (baik itu
e-tailing jual beli melalui
marketplace Tokopedia, Shopee, Lazada, dll. – maupun
social commerce jual beli melalui sosial media Instagram, TikTop Shop, WhatsApp, dll.) Indonesia pada tahun 2022 naik sebanyak 8 kali lipat dari tahun 2017 ke angka Rp910 triliun.
Dari berbagai
channel
online
tersebut,
platform yang berada di
ranking pertama dengan pengunjung bulanan tertinggi pada Q1 2022 adalah Tokopedia. Agusta menambahkan bahwa produk Promag Herbal berhasil menjadi produk yang paling banyak dicari konsumen (posisi pertama) dalam kategori Kalbe Consumer Health, dan
official store yang ada di Tokopedia – berkontribusi paling besar pada penjualan mereka. Ini menunjukkan tingginya animo masyarakat terhadap produk obat herbal yang ada di Indonesia.
Belajar dari strategi penjualan produk Promag Herbal di marketplace, ada beberapa trik yang bisa dilakukan, seperti:
Tidak ada salahnya memanfaatkan
channel
online untuk berjualan karena ternyata juga bisa menghasilkan cuan.
Cuss praktikkan, biar obat herbal makin laris-manis. Untuk urusan operasional apotek, serahkan saja ke
Farmacare. Software apotek seperti Farmacare, buat apotek siap dibuat ramai. Manfaatkan
Uji Coba Gratis
dengan mendaftar
di sini sekarang!
Referensi:
Reza Pahlevi. 10 Juni 2022. APJII: Penetrasi Internet Indonesia Capai 77,02% pada 2022. Databoks.katadata.co.id: https://bit.ly/3zgywgY
We are social. 26 Januari 2022. Digital 2022: Another Year of Bumper Growth. Wearesocial.com: https://bit.ly/3TFt5QQ
Farmacare ID. 16 September 2022. Webinar Transformasi Digital Penjualan Herbal. Youtube.com: https://bit.ly/3TVvYg7
All Rights Reserved | PT Jendela Akses Sehat