Baca artikel selengkapnya di bawah formulir Coba Gratis
Halo Farmapreneur,
Terima kasih atas ketertarikan kamu pada Farmacare! Permintaan kamu sudah diterima dan kamu akan dihubungi tim kami dalam 1x24 jam di hari kerja.
Tahap selanjutnya, kamu akan kami tawarkan untuk menjadwalkan sesi demo aplikasi (gratis). Pada sesi ini, kamu akan dijelaskan secara detail mengenai:
Setelah sesi demo selesai, kamu akan dibuatkan akun trial selama 7 hari.
Jika kamu mempunyai pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi sales kami pada nomor 0812 8833 2296 (WA & Telp.)
Sampai berjumpa di sesi demo!
Salam,
Tim Farmacare
Ups, ada masalah dalam mengirimkan pesanmu. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Menurut hasil survei Farmacare, penjualan obat tradisional termasuk obat herbal di apotek mencapai 6,7%. Diperkirakan potensinya masih akan bertumbuh, mengingat minat masyarakat untuk mengonsumsi obat herbal semakin tinggi. Data Kemenperin menyebut bahwa potensi pasar dalam negeri untuk aneka produk jamu mencapai Rp80 triliun. Sedangkan, total penjualan saat ini baru mencapai Rp14 triliun, masih ada peluang besar yang tak boleh dilewatkan.
Nah, bagaimana cara agar penjualan obat herbal di apotek meningkat? Berikut Farmacare kupas tuntas dalam
Webinar: Transformasi Digital Penjualan Herbal, yang juga kami rangkum di bawah ini. Simak, yuk!
Karakteristik informasi dari obat herbal lebih spesifik dan unik. Kenapa? Karena kebanyakan informasinya berupa pengetahuan non formal, tidak didokumentasikan/dibagikan secara luas, sangat dinamis, bahkan terkait dengan keunikan budaya setempat. Contoh, obat herbal yang mengandung sereh dan kayu manis – belum tentu semua orang di daerah yang berbeda menganggap punya khasiat yang sama. Sehingga diperlukan penyampaian informasi yang seragam agar tidak membingungkan konsumen. Nah, dari mana apoteker bisa mendapat informasi yang sesuai untuk menjualkan obat herbal?
Apoteker bisa mempelajari obat herbal yang dijualnya melalui
website resmi (Jamoetics),
e-book, farmakope herbal, sosial media/brosur dari produsen obat, webinar, atau melalui
sales representative obat herbal yang datang ke apotek (apoteker boleh meminta edukasi singkat terkait produk yang ditawarkannya). Jangan sampai apoteker tidak bisa mengedukasi masyarakat hanya karena kurangnya informasi terkait obat herbal, atau salah memberi informasi karena sumbernya tidak valid. Sehingga perlu untuk melakukan
cross check agar informasi yang disampaikan ke konsumen sudah benar dan berasal dari sumber terpercaya.
Obat herbal sendiri terbagi ke dalam 3 jenis, yaitu jamu – contoh entrostop, esemag, curcuma force; OHT (Obat Herbal Terstandar) yang sudah lulus uji praklinis – contoh antangin/tolak angin, OB herbal, virugon; dan jenis fitofarmaka yang sudah lulus uji praklinis serta uji klinis – contoh stimuno forte, tensigard.
Seperti pengadaan obat pada umumnya, obat herbal dapat di-order langsung ke PBF (Pedagang Besar Farmasi) atau melalui sub-distributor. Pembelian bisa menggunakan metode
beli putus atau konsinyasi. Anda dapat menarik data dari histori penjualan untuk membuat perencanaan pengadaan. Catat pada defekta, obat herbal apa saja yang dibutuhkan beserta kuantitasnya. Atau, Anda bisa mengikuti tren pasar (barang yang punya
high demand) dalam menentukan obat herbal apa saja yang sebaiknya dipesan.
Saat barang datang, Anda wajib mengecek kembali kualitas barang, terutama terkait keasliannya. Ciri-ciri obat palsu untuk bisa Anda waspadai sebagai berikut:
Saat pasien/pelanggan datang, sebaiknya apoteker menanyakan lebih dulu ke mereka – menginginkan obat herbal atau kimia. Ketika mereka tertarik dengan obat herbal, apoteker bisa merekomendasikan obat herbal sesuai indikasi pasien. Itu mengapa, penting untuk benar-benar mengetahui informasi terkait indikasi, cara kerja, dan efek samping dari masing-masing obat herbal. Jangan sampai Anda merekomendasikan produk obat herbal yang tidak sesuai dengan penyakit pasien atau tidak menginformasikan efek samping obat (bila ada) ketika pasien bertanya.
Lalu, ketika pasien lebih memilih obat kimia, Anda bisa menyarankan obat herbal sebagai terapi komplementer. Itu artinya, obat herbal berfungsi sebagai obat penunjang dari obat utamanya. Anda bisa menjelaskan ke pasien kelebihan dari penggunaan obat herbal sebagai terapi penunjang. Apakah dapat mempercepat penyembuhan, lebih aman dikonsumsi jangka panjang, atau alasan lain sesuai kebutuhan pasien.
Selain berjualan secara offline, Anda bisa memanfaatkan saluran penjualan online seperti e-commerce/marketplace. Saat berjualan online, pastikan Anda mencantumkan informasi produk dengan jelas, termasuk fungsi obat, komposisi, dosis/aturan pakai, dan penyimpanan yang dianjurkan. Jangan memberi deskripsi yang tidak sesuai, misal dengan melebih-lebihkan khasiat obat herbal tersebut.
Juga pastikan tampilan toko
online menarik, produk dibagi per kategori agar tidak membingungkan konsumen, dan mengikuti
campaign yang sedang diadakan masing-masing
marketplace. Manfaatkan juga fitur
live stream di
marketplace untuk me-review produk yang Anda jual. Pastikan harga jual kompetitif dan manfaatkan strategi
bundling – memasangkan produk paling laris dengan yang stoknya masih banyak, atau paket beli banyak lebih murah.
Saat berjualan
online – kredibilitas,
trust, dan kepuasan pelanggan harus benar-benar dibangun dan dijaga dengan baik. Jangan terjebak dalam perang harga dan mengesampingkan kualitas produk, serta layanan. Sebab,
review pelanggan di apotek
online Anda akan sangat mempengaruhi penjualan. Ketika mereka merasa puas, akan lebih mudah menarik lebih banyak orang lagi untuk berbelanja di tempat Anda.
Agar Anda bisa lebih fokus mengembangkan apotek dan meningkatkan penjualan, serahkan urusan operasional pada Farmacare. Software apotek seperti Farmacare membuat operasional apotek berjalan lebih efektif dan efisien. Manfaatkan Uji Coba Gratis dengan mendaftar di sini sekarang!
All Rights Reserved | PT Jendela Akses Sehat