Baca artikel selengkapnya di bawah formulir Coba Gratis
Halo Farmapreneur,
Terima kasih atas ketertarikan kamu pada Farmacare! Permintaan kamu sudah diterima dan kamu akan dihubungi tim kami dalam 1x24 jam di hari kerja.
Tahap selanjutnya, kamu akan kami tawarkan untuk menjadwalkan sesi demo aplikasi (gratis). Pada sesi ini, kamu akan dijelaskan secara detail mengenai:
Setelah sesi demo selesai, kamu akan dibuatkan akun trial selama 7 hari.
Jika kamu mempunyai pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi sales kami pada nomor 0812 8833 2296 (WA & Telp.)
Sampai berjumpa di sesi demo!
Salam,
Tim Farmacare
Ups, ada masalah dalam mengirimkan pesanmu. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Catatan: Panduan Lengkap Obat Swamedikasi bisa diunduh di link berikut ini ya e-Book Panduan Swamedikasi.
Menurut data Badan Pusat Statistik (2021), setidaknya ada 84,23% penduduk Indonesia yang melakukan swamedikasi. Jumlah ini bertambah dari tahun sebelumnya yang hanya 72,19%. Tapi, kenapa orang-orang lebih memilih melakukan swamedikasi?
Ya, swamedikasi dianggap mampu memberi solusi yang murah, cepat, dan nyaman dalam mengatasi penyakit ringan. Asal tetap dalam koridor penggunaan obat-obatan yang rasional. Karena perilaku swamedikasi yang tidak dilakukan dengan tepat, dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan.
Lalu, apa peran apoteker di apotek dalam praktik swamedikasi? Yuk, simak ulasan lebih lengkap seputar swamedikasi dan peran kamu sebagai apoteker dalam praktik swamedikasi di bawah ini!
Swamedikasi adalah upaya seseorang melakukan pengobatan sendiri menggunakan obat-obatan tanpa berkonsultasi dengan dokter lebih dulu. Namun, tidak asal mengobati dan tidak semua penyakit bisa sembuh hanya dengan swamedikasi.
Apoteker punya peran mengedukasi pasien agar praktik swamedikasi dapat dilakukan dengan tepat. Saat melakukan swamedikasi, pasien sebaiknya memahami beberapa hal berikut:
Pasien tetap harus mencari informasi obat yang akan dikonsumsinya. Agar dapat memastikan bahwa obat tersebut benar-benar bisa menyembuhkan penyakit yang sedang diderita. Nah, di sini peran apoteker sangat dibutuhkan. Biasanya pasien akan berkonsultasi dengan apoteker di apotek untuk mendapat informasi seputar obat yang tepat untuk penyakit mereka.
Swamedikasi adalah upaya pengobatan untuk penyakit ringan, seperti alergi, anemia, batuk, biang keringat, diare, insomnia, influenza, luka bakar, jerawat, obesitas ringan, dan lainnya. Obat-obatan yang dikonsumsi juga hanya kategori obat bebas dan obat bebas terbatas yang tidak membutuhkan resep dokter.
Setelah mendapat pilihan obat yang tepat, pastikan pasien swamedikasi mengerti bahwa terdapat informasi pada kemasan obat terkait kandungan zat berkhasiat, kegunaan, aturan pakai, efek samping, dan tanda peringatan “Apabila Sakit Berlanjut Segera Hubungi Dokter”. Sehingga pasien jadi lebih bijak saat mengonsumsi obat.
Informasi tentang obat juga harus diketahui pasien agar mereka dapat mengevaluasi sendiri perkembangan penyakitnya, tahu ketika efek samping obat justru merugikan, dan tahu kapan mereka harus berhenti melakukan
self-medication untuk berkonsultasi langsung ke ahlinya.
Pasien yang datang ke apotek dan ingin melakukan swamedikasi, wajib diberi pemahaman terkait kelayakan kondisinya. Ketika pasien yang melakukan swamedikasi adalah ibu hamil, anak usia di bawah 2 tahun, atau orang tua di atas 65 tahun – sebaiknya minta mereka untuk tetap berkonsultasi ke dokter lebih dulu agar proses pengobatan jadi lebih aman dan efektif.
Tujuan swamedikasi adalah: Pertama, untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Ketimbang mereka yang merasa mahal untuk berobat ke dokter, mengonsumsi obat sembarangan yang diperoleh bukan dari sarana pelayanan kefarmasian resmi, seperti apotek dan toko obat.
Kedua,
untuk penanganan keluhan ringan secara cepat dan efektif.
Ketiga,
untuk mengurangi beban pelayanan di fasilitas kesehatan pada kondisi terbatasnya sumber daya (praktisi kesehatan).
Keempat,
untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat yang berada jauh dari pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit atau puskesmas.
Cara melakukan swamedikasi yang benar adalah yang diikuti dengan penggunaan obat yang rasional. Menurut WHO (World Health Organization), penggunaan obat rasional artinya bahwa pasien menerima obat sesuai dengan kebutuhan klinis atau yang sesuai diagnosis. Selain itu, dosis dan durasi penggunaannya tepat, serta biaya yang rendah.
Tips agar pasien atau pelanggan di apotek dapat melakukan swamedikasi yang rasional, yaitu:
Untuk bisa membantu pelanggan memperoleh obat yang tepat dan efektif untuk penyakit mereka saat swamedikasi, pasien harus mau menyampaikan keluhan atau gambaran penyakit yang dideritanya, riwayat penggunaan obat sebelumnya, dan dampak dari penggunaan obat tersebut.
Dari informasi yang diberikan oleh pelanggan, dapat memudahkan apoteker dalam memberi rekomendasi obat yang sesuai. Termasuk soal harga obat, yang juga disesuaikan dengan faktor sosial ekonomi pelanggan.
Obat yang dipilih harus memiliki efek terapi yang sesuai dengan penyakit. Hal tersebut dapat diukur dari nilai manfaatnya (efektifitas) terhadap kesembuhan pelanggan, kualitas dan keamanan obat terjamin, serta harga obat yang terjangkau bagi pelanggan.
Untuk bisa mencapai kriteria ini, sarankan pelanggan untuk selalu membeli obat di sarana pelayanan kefarmasian resmi. Bila harus membelinya secara
online, pastikan pilih platform apotek daring yang sudah terdaftar di
PSEF (Penyelenggara SIstem Elektronik Farmasi).
Baca juga:
Berbagai Cara Apotek Berjualan Online
Selain harus sesuai dengan diagnosis dan penyakit pasien, swamedikasi yang rasional juga harus tepat dosis, tepat cara penggunaan obat, dan durasi pengonsumsian obat. Memberikan dosis yang berlebih, khususnya untuk obat dengan rentang terapi yang sempit akan berisiko menimbulkan efek samping.
Sebaliknya, bila dosis terlalu kecil tidak akan menjamin keefektifan obat yang dikonsumsi pasien. Pastikan juga bahwa obat yang dikonsumsi pasien tidak boleh memiliki kontraindikasi dengan kondisi atau penyakit lain yang diderita pasien.
Pasien yang melakukan swamedikasi, harus paham soal efek samping yang mungkin timbul pada obat yang dikonsumsinya. Itu mengapa, sebagai apoteker di apotek wajib memberi informasi seputar efek samping obat kepada pelanggan. Kenapa? Ya, hal ini dilakukan agar mereka ikut bertanggung jawab atas kesehatan diri sendiri dan mengantisipasi risiko terhadap efek samping obat.
Wah, pembahasan seputar swamedikasi luas banget, ya. Ulasan di atas belum seberapanya. Masih banyak ilmu yang bisa kamu kupas untuk mempertajam
knowledge
agar pelayanan ke pelanggan jadi lebih maksimal.
Baca juga:
4 Syarat Membuat Apotek Punya Pelayanan Maksimal yang Pelanggan Suka
Kalau gitu, yuk, simak juga
Webinar Farmacare
berikut yang mengangkat tema
“Strategi Pelayanan Produk Swamedikasi untuk Memaksimalkan Pendapatan Apotek”
biar makin
dalem
ilmunya tentang swamedikasi.
Selain webinar, Farmacare juga menerbitkan
E-Book terbaru tentang
Panduan Swamedikasi
yang bisa kamu unduh secara GRATIS.
Yakin,
deh, bakal berguna banget ilmunya bagi profesi apoteker. Tunggu apa lagi? Unduh sekarang juga!
All Rights Reserved | PT Jendela Akses Sehat