Baca artikel selengkapnya di bawah formulir Coba Gratis
Halo Farmapreneur,
Terima kasih atas ketertarikan kamu pada Farmacare! Permintaan kamu sudah diterima dan kamu akan dihubungi tim kami dalam 1x24 jam di hari kerja.
Tahap selanjutnya, kamu akan kami tawarkan untuk menjadwalkan sesi demo aplikasi (gratis). Pada sesi ini, kamu akan dijelaskan secara detail mengenai:
Setelah sesi demo selesai, kamu akan dibuatkan akun trial selama 7 hari.
Jika kamu mempunyai pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi sales kami pada nomor 0812 8833 2296 (WA & Telp.)
Sampai berjumpa di sesi demo!
Salam,
Tim Farmacare
Ups, ada masalah dalam mengirimkan pesanmu. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Swamedikasi dapat diartikan sebagai upaya untuk mengobati diri sendiri tanpa berkonsultasi lebih dulu dengan dokter. Tapi, praktik swamedikasi (pengobatan mandiri) hanya boleh dilakukan bagi penderita penyakit ringan, yang sembuh diobati oleh jenis obat bebas atau OTC (Over The Counter) yang dijual di apotek.
Selain itu, upaya pengobatan mandiri dapat dilakukan bila penderita penyakit punya pengetahuan yang cukup tentang cara mengetahui gejala penyakitnya, dan tentang khasiat obat. Namun pada kenyataannya, mereka masih butuh peran apoteker untuk mengedukasi.
Nah, di bawah ini kita akan membahas seputar potensi swamedikasi dan dampaknya bagi pertumbuhan bisnis apotek, yang juga bisa kamu simak pada
Webinar Farmacare
melalui link berikut
Webinar: Strategi Pelayanan Produk Swamedikasi untuk Memaksimalkan Pendapatan Apotek!
Data BPS menunjukkan bahwa ada pertumbuhan persentase penduduk yang melakukan pengobatan mandiri. Di tahun 2022, sudah sebanyak 84,3% penduduk Indonesia memilih melakukan pengobatan mandiri. Tak hanya itu, permintaan produk swamedikasi (obat bebas/OTC) juga mengalami kenaikan sebesar 26% per tahun.
Di tengah keterbatasan akses ke dokter, baik itu disebabkan oleh faktor ekonomi atau ketersediaan dokter yang minim, masyarakat memilih datang ke apotek untuk membantu mereka mendapatkan obat-obatan yang tepat agar penyakitnya cepat sembuh.
Masyarakat cenderung mengunjungi apotek hingga empat kali lebih sering daripada ke dokter. Sehingga apoteker dan staf farmasi lainnya di apotek, punya tanggung jawab moral dalam mengedukasi pasien swamedikasi agar pengobatannya jadi efektif.
Ada tiga faktor yang mendorong konsumen melakukan pembelian di apotek saat melakukan pengobatan mandiri, yaitu:
Hal tersebut menunjukkan bahwa peluang praktik swamedikasi dalam meningkatkan pendapatan bisnis apotek sangat besar. Karena itu, pelaksanaannya oleh apoteker di apotek harus dilakukan dengan benar.
Ada banyak jenis obat-obatan yang boleh diberikan oleh apoteker kepada pasien/pelanggan untuk kebutuhan pengobatan mandiri. Seperti, jenis obat bebas, bebas terbatas, herbal, dan obat wajib apotek (contoh: asam mefenamat, antalgin, omeprazol, famotidin).
Saat apoteker memberi rekomendasi obat, pastikan sesuai dengan
demand konsumen. Jika sudah begitu, dampak dari swamedikasi terhadap peningkatan penjualan di apotek akan terasa. Apa saja yang perlu diperhatikan apoteker?
Ketika pelanggan datang ke apotek dengan gejala tertentu dan mereka meminta rekomendasi obat, kamu bisa menyarankan merk obat dari brand yang terkenal dulu. Misal, brand yang sering ngiklan di televisi sehingga lebih dikenal dan akrab di telinga konsumen. Merk obat yang sudah dikenal oleh pelanggan, mampu memberi value tambahan untuk mendorong mereka melakukan pembelian produk tersebut.
Jika kamu sebagai apoteker merekomendasikan
obat herbal, yang mana produknya belum begitu dikenal atau belum laris di pasaran, akan lebih sulit untuk meyakinkan konsumen. Kecuali, ketika pelanggan yang datang ke apotek memang punya preferensi
trust
lebih tinggi terhadap produk herbal.
Rekomendasi obat dari apoteker untuk pengobatan mandiri juga mempertimbangkan demand konsumen sesuai musimnya. Misal, sekarang polusi udara di wilayah Jakarta dan sekitarnya lagi buruk. Ini membuat permintaan obat-obat yang berhubungan dengan saluran pernapasan atau paru-paru meningkat.
Contoh lain, saat musim pancaroba – gejala penyakit seperti masuk angin, demam, flu, atau batuk, jadi meningkat. Otomatis permintaan obat untuk penyakit tersebut juga ikut bertambah. Atau saat momen jelang bulan puasa, dampak permintaan obat maag menjadi naik. Karena itu, pastikan
stok obat di apotek untuk swamedikasi memadai sesuai
demand
per musim penyakit.
Pasien datang ke apotek dengan gejala penyakitnya masing-masing. Mereka merasakan sakit dan ingin memperoleh obat yang manjur agar rasa sakitnya cepat mereda. Terkadang pelanggan tidak begitu mempermasalahkan soal harga produk, bila taruhannya adalah rasa sakit.
Faktor
urgency
inilah yang harus dimanfaatkan apoteker untuk memberi rekomendasi obat terbaik yang sesuai dengan kondisi pelanggan. Sehingga berdampak efektif menyembuhkan penyakit mereka, dan pelanggan menjadi
trust
dengan rekomendasi apoteker.
Juga pertimbangkan untuk memberi rekomendasi obat dengan margin yang lebih tinggi, antara obat generik atau paten. Kamu pun bisa menawarkan produk pendamping lainnya sebagai strategi
cross selling, yang mampu menunjang kesembuhan penyakit pasien.
Baca juga:
Antara Obat Generik dan Paten, Mana yang Lebih Menguntungkan Apotek?
Meski praktik swamedikasi di Indonesia menunjukkan tren positif, namun jika kamu tidak mampu merekomendasikan produk yang tepat kepada pelanggan, tidak akan berdampak apa-apa ke bisnis apotek. Itu mengapa, pastikan kamu memberi rekomendasi obat selain sesuai dengan penyakit pasien, juga harus sesuai dengan kondisi ekonominya.
Harga produk yang terlalu mahal bagi pelanggan, akan membuat mereka tidak jadi membeli. Pasien melakukan pengobatan mandiri karena relatif lebih murah ketimbang harus pergi ke dokter. Jadi, pastikan tujuan untuk memperoleh pengobatan yang terjangkau dapat mereka capai dengan bantu merekomendasikan obat sesuai
budget
konsumen.
Itu tadi ulasan seputar potensi dan dampak swamedikasi bagi pertumbuhan bisnis apotek. Nah, agar apotek berhasil menjadi sarana penunjang kesuksesan pengobatan mandiri, manajemen stok di apotek harus dilakukan dengan baik. Dengan begitu, ketersediaan obat selalu terpenuhi.
Kamu bisa lebih mudah mengelola stok obat di apotek dengan
aplikasi Farmacare. Yuk, daftar
Uji Coba Gratis sekarang dan buktikan manfaatnya!
All Rights Reserved | PT Jendela Akses Sehat