Baca artikel selengkapnya di bawah formulir Coba Gratis
Halo Farmapreneur,
Terima kasih atas ketertarikan kamu pada Farmacare! Permintaan kamu sudah diterima dan kamu akan dihubungi tim kami dalam 1x24 jam di hari kerja.
Tahap selanjutnya, kamu akan kami tawarkan untuk menjadwalkan sesi demo aplikasi (gratis). Pada sesi ini, kamu akan dijelaskan secara detail mengenai:
Setelah sesi demo selesai, kamu akan dibuatkan akun trial selama 7 hari.
Jika kamu mempunyai pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi sales kami pada nomor 0812 8833 2296 (WA & Telp.)
Sampai berjumpa di sesi demo!
Salam,
Tim Farmacare
Ups, ada masalah dalam mengirimkan pesanmu. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Catatan: Daftar obat paling laris bisa dilihat di Panduan Lengkap Obat Swamedikasi yang bisa diunduh di link berikut ini ya e-Book Panduan Swamedikasi
Saat membuka apotek pertama kali, suka bingung nggak, sih, apa saja daftar obat untuk apotek baru? Memang tidak ada ilmu pasti untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut. Namun, saat kamu membuka apotek baru, wajib banget untuk melakukan riset terlebih dahulu. Kenapa? Ya, riset akan memudahkan kamu mengenal target market bisnis apotekmu, mengetahui kelemahan kompetitor, sekaligus mengetahui tren kebutuhan dari target market.
Bisnis apotek memang tidak seperti bisnis retail umum seperti minimarket/toserba. Yang mana daftar barang jualannya mudah ditebak, karena kebutuhan konsumen selalu berpatok pada tiga pilar utama, yaitu sandang, pangan, papan. Sehingga daftar barang jualan bisa menggunakan tolak ukur tersebut.
Berbeda dengan apotek, yang menggunakan banyak variabel sebagai tolak ukur menentukan daftar obat untuk
apotek baru. Nah, berikut Farmacare punya beberapa strategi yang bisa dijadikan referensi. Simak, yuk!
Menurut APA Apotek Obatin apt. Putu Agung Martin Sabudi, S. Farm menyebut, sebelum membuka apotek baru – ada baiknya memperkaya network dengan tergabung dalam komunitas apoteker/farmasi. Network juga bisa didapat dengan kamu bekerja di apotek rumah sakit atau puskesmas. Dari sana, kamu bisa mengetahui harus membeli daftar obat untuk apotek baru di PBF (Pedagang Besar Farmasi) mana saja. Selain itu, mengetahui PBF yang bisa beri harga paling murah, mengetahui daftar obat apa saja yang lagi laris-manis di pasaran, sehingga bisa kamu petakan untuk menentukan kebutuhan modal awal pengadaan obat.
Kamu juga bisa langsung mendapat koneksi ke banyak PBF sekaligus. Koneksi ke banyak PBF tentu menguntungkan bisnis apotek. Kamu jadi tidak hanya bergantung pada satu PBF saja, untuk mendapatkan produk tertentu. Ketika di satu PBF barang yang kamu cari sedang kosong, kamu bisa segera mendapatkan obat tersebut di PBF lain. Tanpa harus menunggu terlalu lama dan membiarkan stok di apotek kosong.
Seperti yang sudah di-mention sebelumnya, riset harus dilakukan sebelum kamu memutuskan membuka apotek baru. Lewat riset tersebut, kamu jadi mengetahui demografi masyarakat sekitar, kebutuhan/minat mereka, mencari kelemahan kompetitor yang bisa menjadi keunggulan apotekmu, dan untuk memetakan daftar obat beserta harga yang sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat sekitar apotek.
Apoteker Putu Agung mencontohkan, untuk apotek di daerah wisata yang ramai turis asingnya – punya daftar obat tertentu yang harus disesuaikan dengan preferensi mereka. Tren permintaan obatnya bisa berbeda dengan apotek yang berada di pemukiman domestik. Apalagi merekomendasikan obat berbeda dari yang diminta oleh turis asing akan lebih sulit/lebih menantang karena mereka lebih saklek. Ada baiknya bila kamu menggali dulu informasi sedalam-dalamnya terkait target market dan demografi masyarakat di sekitar apotek baru.
Lalu, ketika masyarakat sekitar apotek banyak mahasiswanya, tentu kamu harus menyesuaikan daftar obat yang sekiranya umum/generik dan harganya juga terjangkau bagi target pasar. Jika kamu terlalu banyak menyetok obat merek yang harganya mahal, justru akan menjadi potensi
dead stock.
Strategi berikutnya dalam menentukan daftar obat untuk apotek baru bisa menggunakan metode morbiditas yang memakai tolak ukur pola penyakit yang paling sering diderita masyarakat sekitar apotek.
Karena masih apotek baru (belum ada histori penjualan), kamu bisa menyediakan standar obat-obat
fast moving
(obat generik, obat herbal, multivitamin), dan Obat Wajib Apotek (OWA) yang bisa dibeli tanpa resep dokter. Terutama untuk mengobati penyakit umum seperti demam, radang, batuk, pilek, diare, dan lainnya. Jenis obat untuk penyakit yang tergolong kronis (seperti jantung, diabetes), yang harus menggunakan resep dokter – sebaiknya distok dalam jumlah yang sedikit dulu.
Tapi juga bisa melihat langsung dari dominasi usia penduduk yang tinggal di sekitar apotek. Misal, apotek berdiri di wilayah perumahan dimana banyak lansianya. Kamu sudah bisa memperkirakan penyakit apa yang biasa diderita oleh mereka, dan daftar obat yang biasa mereka gunakan.
Setelah apotek berjalan beberapa bulan, baru kamu bisa dengan mudah menyimpulkan jenis penyakit endemik/demand
pasien di wilayah sekitar apotek, yang terlihat dari histori penjualannya. Data itulah yang akan membantu kamu membuat perencanaan pengadaan barang lebih efektif.
Untuk persediaan obat di apotek baru, kamu bisa bekerja sama dengan rekan sejawat yang berada dalam satu circle. Hal ini menjadi pilihan karena meringankan beban modal di awal membuka apotek baru. Dengan bekerja sama, kamu bisa membeli barang dalam jumlah yang kecil dan melakukan pembayaran setelah stok barang laku terjual.
Ini disarankan hanya untuk 1 - 2 bulan pertama saja, sambil kamu mengumpulkan modal yang cukup untuk membeli persediaan obat yang lebih beragam. Sebab, pembelian obat ke PBF untuk apotek baru biasanya memang harus membayar secara tunai (COD) selama tiga kali pemesanan pertama. Sehingga kerja sama yang dilakukan, dapat
memberi kamu waktu untuk mengumpulkan modal yang cukup, serta memperoleh data kebutuhan obat yang lebih valid. Pada akhirnya, pengadaan barang pun jadi lebih efektif dengan penggunaan
budget
yang lebih sesuai. Namun, perlu diingat – dalam kerja sama harus ada bukti serah terima atau pengiriman obat, untuk memudahkan penelusuran barang dan meminimalisir penyalahgunaan.
Daftar obat untuk apotek baru juga bisa kamu ketahui dengan meminta informasi ke rekan sejawat yang lebih dulu membuka apotek. Minta mereka untuk merekomendasikan daftar obat apa saja yang sedang laris/tinggi peminatnya.
Gambar: tampilan defecta Farmacare. Kamu dapat melihat prioritas barang (A/B/C) berdasarkan kontribusinya ke revenue.
Baru setelah apotek berjalan selama sekitar satu bulan, kamu dapat mengetahui pareto obat yang harus diprioritaskan dalam pengadaan karena punya kontribusi omzet tertinggi. Jika kamu memanfaatkan software apotek seperti Farmacare, informasi pareto dan stok minimal sudah terhitung otomatis dari histori penjualan di apotek. Bahkan terdapat fitur defekta yang memudahkan kamu melakukan perencanaan pengadaan barang lebih efektif. Nggak percaya? Yuk, manfaatkan Uji Coba Gratis dengan mendaftar sekarang juga!
All Rights Reserved | PT Jendela Akses Sehat