Baca artikel selengkapnya di bawah formulir Coba Gratis
Halo Farmapreneur,
Terima kasih atas ketertarikan kamu pada Farmacare! Permintaan kamu sudah diterima dan kamu akan dihubungi tim kami dalam 1x24 jam di hari kerja.
Tahap selanjutnya, kamu akan kami tawarkan untuk menjadwalkan sesi demo aplikasi (gratis). Pada sesi ini, kamu akan dijelaskan secara detail mengenai:
Setelah sesi demo selesai, kamu akan dibuatkan akun trial selama 7 hari.
Jika kamu mempunyai pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi sales kami pada nomor 0812 8833 2296 (WA & Telp.)
Sampai berjumpa di sesi demo!
Salam,
Tim Farmacare
Ups, ada masalah dalam mengirimkan pesanmu. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Pulpen bisa digantikan dengan pensil, karena punya fungsi yang sama untuk menulis. Mobil bisa digantikan dengan motor, karena sama-sama sebagai alat transportasi. Inilah yang dimaksud dengan substitusi. Tapi, apakah obat juga bisa disubstitusi?
Substitusi obat adalah penggantian obat (baik obat resep maupun non-resep) dengan obat lain yang punya kandungan dan efek terapeutik yang setara sebagai alternatif.
Substitusi obat dilakukan ketika obat yang dicari atau dibutuhkan konsumen tidak tersedia di apotek. Sehingga apoteker akan merekomendasikan obat pengganti yang setara atas seizin dokter penulis resep dan juga pasien.
Substitusi obat juga bisa dilakukan saat pasien menginginkan obat generik yang harganya lebih murah, ketika diresepkan obat paten oleh dokter, begitu pun sebaliknya. Meski penggantian dilakukan atas permintaan pasien,
apoteker di apotek tetap harus berkoordinasi dulu dengan dokter penulis resep untuk meminta persetujuan.
Pada umumnya, barang substitusi dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu:
Substitusi sempurna merupakan penggantian barang yang punya kegunaan identik satu sama lain. Contoh, produk obat demam dari dua produsen yang berbeda. Meski produsennya beda, namun tujuan penggunaannya sama, yaitu sama-sama untuk menurunkan panas.
Misal, Panadol Biru diganti dengan Sanmol Tablet, yang sama-sama mengandung
paracetamol
500 mg dan dapat membantu menurunkan demam, sakit gigi, sakit kepala, dan nyeri.
Baca juga:
Berikut Daftar Obat Paling Laris di Awal Tahun dan Distributornya!
Barang substitusi tipe ini punya tingkat substitusi yang lebih rendah. Bukan hanya beda produsen, namun juga beda jenis, misal jenis obat generik dengan obat paten. Akan ada konsumen yang lebih memilih produk yang satu ketimbang yang lainnya karena berbagai alasan, disesuaikan oleh preferensi masing-masing konsumen.
Agar substitusi obat dapat dilakukan dengan aman dan tetap efektif mengobati penyakit pasien, berikut beberapa tips yang bisa kamu lakukan:
Tidak disarankan untuk memberi rekomendasi substitusi obat tanpa kamu benar-benar tahu gejala yang dialami dan kebiasaan pelanggan. Kamu bisa menggunakan informasi seputar gejala dan preferensi obat yang biasa mereka minum saat menawarkan obat pengganti.
Beri pelanggan 1 - 2 pilihan obat pengganti yang punya keunggulan masing-masing. Misal pelanggan datang dengan gejala radang tenggorokan dan ingin mengganti antibiotik generik berlogo (OGB) seperti
Amoxicillin
ke antibiotik generik bermerek. Kamu bisa memberi pilihan antibiotik bermerek seperti
Amoxsan
yang harganya masih terjangkau.
Lalu, beri juga pilihan kedua yang punya harga lebih mahal, meski kekuatan sediaannya sama, seperti
Intermoxil. Adanya beberapa pilihan obat disertai plus-minus masing-masing produk, memberi keleluasaan pelanggan untuk memilih sendiri sesuai preferensinya.
Baca juga:
5 Hal yang Perlu Kamu Ketahui Seputar Konseling Obat di Apotek
Disarankan untuk bisa mendengarkan lebih dulu keluhan pelanggan dan apa yang mereka rasakan ketika meminum suatu obat tertentu. Terkadang pelanggan yang datang ke apotek sudah punya produk unggulan yang ingin mereka beli. Sehingga lebih sulit jika ingin menawarkan obat pengganti saat stok produk tersebut kosong.
Namun, bila kamu bisa mengkomunikasikannya dengan jelas, mudah dimengerti, dan tidak memaksa, pelanggan akan lebih terbuka menerima rekomendasimu. Yakinkan pelanggan bahwa obat pengganti yang kamu tawarkan sama baiknya dengan obat yang biasa mereka minum.
Ketika pelanggan ingin mengganti obat generik bermerek menjadi generik berlogo (OGB) atau sebaliknya, pastikan mereka paham dengan konsekuensi pilihan yang mereka buat. Misal, bila pelanggan ingin mengganti obat generik (OGB) dengan obat generik bermerek, konsekuensinya harga obat jadi lebih mahal dan pastikan mereka cocok meminum obat tersebut (tidak menimbulkan reaksi alergi).
Contoh lain, saat pelanggan menginginkan satu obat tertentu, namun punya efek samping menyebabkan kantuk, mereka harus tahu konsekuensi tersebut. Beri mereka pilihan apakah mau menerima konsekuensi itu atau menggantinya dengan substitusi obat lain.
Saat pelanggan datang mencari produk obat tertentu, namun stok di apotek sedang kosong, kamu harus mencarikan obat penggantinya agar pelanggan tidak pergi dengan tangan kosong. Mencari substitusi obat memang merepotkan, tapi tidak bila kamu menggunakan aplikasi software apotek seperti Farmacare.
Baca juga:
Cegah Bisnis Apotek Bangkrut, yuk, Kelola Stok Obat dengan Bijak
Dengan fitur pencarian komposisi obat di Farmacare, kamu jadi lebih mudah mencari (memfilter) barang sesuai komposisinya. Sehingga memudahkan kamu ketika harus mencari obat pengganti dengan komposisi yang sama. Pelanggan tidak perlu menunggu lama dan kamu punya waktu yang cukup untuk meyakinkan mereka.
Jadi, lebih mudah menawarkan substitusi obat bila obat yang dicari pelanggan sedang tidak tersedia di apotek. Transaksi pembelian tetap berjalan dan menghindari persepsi bahwa apotek tidak lengkap. Intip tutorial penggunaannya
di sini, dan daftar
Uji Coba Gratis untuk dapatkan manfaat lainnya!
All Rights Reserved | PT Jendela Akses Sehat