Baca artikel selengkapnya di bawah formulir Coba Gratis
Halo Farmapreneur,
Terima kasih atas ketertarikan kamu pada Farmacare! Permintaan kamu sudah diterima dan kamu akan dihubungi tim kami dalam 1x24 jam di hari kerja.
Tahap selanjutnya, kamu akan kami tawarkan untuk menjadwalkan sesi demo aplikasi (gratis). Pada sesi ini, kamu akan dijelaskan secara detail mengenai:
Setelah sesi demo selesai, kamu akan dibuatkan akun trial selama 7 hari.
Jika kamu mempunyai pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi sales kami pada nomor 0812 8833 2296 (WA & Telp.)
Sampai berjumpa di sesi demo!
Salam,
Tim Farmacare
Ups, ada masalah dalam mengirimkan pesanmu. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Tahukah kamu? Potensi pendapatan industri farmasi di Indonesia sangat positif, lho, yaitu mencapai Rp400 triliun per tahun. Potensi tersebut dihitung dari total uang yang dikeluarkan untuk membeli obat-obatan dalam setahun.
Pengeluaran per kapita per bulan orang Indonesia sekitar Rp1,8 juta, yang kira-kira 40 - 50 persennya digunakan untuk membeli obat-obatan. Jika total penduduk ada sebanyak 275 juta jiwa, tak heran bila
revenue
per tahun bisa mencapai Rp400 triliun, bahkan lebih. Ini menjadi ceruk pasar tersendiri, dan peluang bisnis apotek di Indonesia.
Apalagi pemerintah telah memulai langkah untuk memproduksi bahan baku obat (BBO) secara mandiri di dalam negeri. Sehingga dapat mengurangi permintaan BBO impor, dan produk obat formulasi BBO dalam negeri per September 2022, sudah bisa digunakan oleh fasilitas kesehatan.
Baca juga:
4 Cara Apoteker Edukasi Daftar Obat Jenis Sirup Aman Konsumsi
Upaya ini mampu mempercepat pengembangan industri farmasi di tanah air, sekaligus mendukung pemenuhan hak sehat masyarakat lebih maksimal.
Setidaknya ada total 206 industri farmasi di Indonesia (4 BUMN, 178 PMDN Swasta, dan 24 PMA) sebagai produsen obat. Kinerja industri farmasi tersebut pada Q3 - 2022 tercatat mencapai Rp58,08 triliun.
Lalu, dari segi distribusinya – ada 2.232 PBF (Pedagang Besar Farmasi) di Indonesia yang bertugas mendistribusikan obat-obatan ke fasilitas pelayanan kesehatan, seperti apotek. Dan ada sekitar 30.199 apotek – yang angkanya masih terus tumbuh untuk meningkatkan pelayanan kesehatan penduduk Indonesia.
Peluang bisnis apotek juga bisa dilihat dari potensi market pelayanan BPJS di dalam negeri.
Pembelian obat generik oleh BPJS 2021, punya kontribusi sebesar 10,8% terhadap pertumbuhan pasar farmasi Indonesia. Namun, pembelanjaan yang lebih besar lagi adalah untuk penyakit katastropik. Katastropik (catastrophic) adalah penyakit yang membutuhkan perawatan medis lama dan berbiaya tinggi. Antara lain seperti penyakit jantung, gagal ginjal, kanker, stroke, dan sirosis hati.
Data BPJS mencatat, pengeluaran masyarakat untuk pengobatan (pembelian obat) atas penyakit katastropik jumlahnya bisa mencapai Rp17 triliun di 2021.
Kebutuhan masyarakat yang tidak sedikit ini, harus diakomodir oleh tersedianya pelayanan farmasi yang juga memadai. Sehingga, selain dimaknai sebagai peluang – pelaku bisnis apotek sekaligus bisa ikut memaksimalkan pelayanan kefarmasian, demi menunjang kualitas kesehatan masyarakat.
Pelaku bisnis apotek punya tujuan jangka panjang yang lebih mudah dicapai dengan adanya transformasi. Adopsi digital dalam setiap urusan operasional apotek menjadi jawaban dari berbagai tantangan yang dialami selama ini.
Apa saja tantangan yang bisa diatasi dengan adanya transformasi bisnis apotek?
Adopsi digital membawa bisnis masuk ke era kolaborasi. Untuk bisa mempercepat pertumbuhan bisnis, kamu tak harus berjuang sendirian – bisa dengan menggandeng rekan sejawat dan berjuang sama-sama. Menurut Mckinsey, lebih dari 50% perusahaan dewasa ini sudah mengintensifkan model bisnis kolaborasi dengan pemain industri lainnya, misal melalui joint ventures, membangung ekosistem/jaringan, dengan adanya perjanjian (agreements).
Sebut saja Pfizer dan BioNTech, yang telah menjalin kemitraan strategis dalam penemuan teknologi mRNA, serta AstraZeneca dan Huma – yang berkolaborasi untuk meningkatkan inovasi dalam kesehatan digital. Atau, dalam bisnis apotek, kamu bisa berkolaborasi dengan rekan sejawat untuk membangun apotek kerja sama. Baik itu untuk membuka apotek cabang, maupun
apotek baru. Sehingga akselerasi pertumbuhan bisnis apotek di Indonesia dapat terwujud.
Peningkatan kualitas SDM di apotek bisa dilakukan dengan mengupayakan upskiling dan continuous learning. Menjalankan tugas sebagai frontliner, apoteker/pegawai apotek diharap bisa meng-influence pelanggan dengan mudah dan punya product knowledge yang mumpuni sehingga saran/solusi yang diberikan dapat dipercaya. Agar mereka punya product knowledge yang mumpuni, pegawai apotek secara berkala harus meng-update ilmunya, dan tidak berhenti belajar.
Meski tingginya tingkat
turnover
karyawan masih jadi hambatan, bisnis apotek harus punya strategi untuk mempertahankan talenta yang mereka punya, dan memaksimalkan kualitasnya. Kenaikan gaji bagi pegawai bukan satu-satunya solusi karena mereka juga mempertimbangkan kultur perusahaan,
benefit
yang diperoleh, peluang jenjang karir, dan peningkatan
skill
melalui pelatihan internal. Di sisi lain, SDM yang berkualitas secara strategis membuat bisnis lebih mudah berkembang.
Tantangan dalam rantai pasok sediaan farmasi, bisa diatasi dengan adanya distributor yang menyediakan aplikasi. Agar apotek bisa melakukan pembelian/pengadaan barang secara online. Selain itu, manajemen inventaris (dalam hal ini stok barang di apotek), sudah waktunya bisa dikelola secara otomatis dan terintegrasi.
Misal, dengan memanfaatkan software apotek yang mampu melakukan pencatatan stok barang secara otomatis dan terintegrasi dengan seluruh data transaksi pembelian/penjualan. Terjaminnya keakuratan pencatatan stok barang di apotek, membuat perencanaan pengadaan barang jadi lebih efektif. Sehingga mampu membangun ketahanan bisnis apotek dan membawa potensi keuntungan jangka panjang.
Baca juga:
Manfaat Digital Marketing dan Strateginya agar Bisnis Apotek Berkembang
Digitalisasi mampu membuktikan dirinya berguna bagi urusan operasional bisnis apotek. Salah satu kegunaannya yang sangat terasa adalah bisa mengurangi biaya operasional secara signifikan. Adopsi digital dapat melindungi bisnis dari tekanan biaya operasional yang terus meningkat.
Selain itu, mampu meningkatkan kualitas bisnis dan pelayanan, sehingga bisnis apotek lebih tangguh menghadapi situasi yang tak menentu. Efektivitas karyawan pun lebih terasa karena adopsi digital nyatanya mempermudah kerja pegawai apotek dan menurunkan tingkat
turnover
karyawan.
Sebagai contoh, aktivitas
stock opname secara manual membutuhkan waktu lebih lama dan melelahkan bagi pegawai. Namun, dengan adanya penggunaan software apotek, proses
stock opname jadi lebih simpel, cepat, dan bisa dilakukan tanpa harus tutup toko. Pegawai dapat melakukannya dengan bantuan gawai mereka masing-masing. Ketika terjadi penjualan atau ada barang datang, mereka tidak perlu mengulang proses
stock opname karena pencatatan secara otomatis akan memperbarui data hasil
stock opname.
Adanya software apotek, memudahkan pemilik bisa memantau jalannya bisnis kapan saja dan dari mana saja. Ditambah, saat kamu berkolaborasi dengan rekan sejawat membangun apotek, digitalisasi operasional membuat bisnis apotek lebih transparan dan memudahkan pengelolaan bersama.
Dapatkan manfaat digitalisasi bisnis apotek dengan penggunaan software apotek seperti
Farmacare. Caranya mudah,
kok, karena kamu hanya perlu mendaftar
Uji Coba Gratis sekarang juga!
Referensi:
Hillary Dukart, Laurie Lanoue, Mariel Rezende, dan Paul Rutten. 10 Oktober 2022. Emerging from disruption: The future of pharma operations strategy. Mckinsey.com: http://bit.ly/3JUHqXi
Farmacare ID. 25 Februari 2023. Strategi Adaptasi Distributor Farmasi pada Pola Pengadaan Apotek Era Digital. Youtube.com: https://www.youtube.com/watch?v=HQrxs-4eoDM
All Rights Reserved | PT Jendela Akses Sehat